Showing posts with label Konflik. Show all posts
Showing posts with label Konflik. Show all posts

Friday, April 14, 2017

Tips Menulis Picture Books (bagian 1)



Artikel ini saya tulis berdasarkan pengalaman saya selama tiga hari mengikuti acara lokarkarya: The Art of Creating Narratives for Picture Books With Alfredo Santos yang diselenggarakan oleh SCBWI Indonesia dan Komite Buku Nasional.

Here we go!

Elemen Cerita Picture Books

Sebagaimana karya prosa pada umumnya, picture books pun memiliki elemen cerita, seperti karakter, plot, konflik, dan tema.

Karakter adalah tokoh dalam cerita yang bisa berupa manusia, hewan, peri, monster, robot, dan lain-lain.

Plot adalah rangkaian cerita sebab akibat yang memiliki struktur awal, tengah, dan akhir.

Konflik adalah sebuah masalah yang harus dihadapi dan diselesaikan oleh sang karakter.

Tema adalah sebuah pokok atau gagasan atau ide pikiran dari sebuah cerita yang dituliskan.

Karakter dalam Picture Books

Karakter haruslah memiliki objective atau tujuan (aku ingin …) dan motivasi (aku ingin … karena …).

Jika ingin menciptakan karakter cerita yang bagus, berikanlah karakter itu tujuan dan motivasi yang jelas dan konkret.

Misal, sang karakter adalah seekor ulat kecil yang ingin makan banyak karena perutnya sangat kelaparan. Ini adalah karakter yang terdapat dalam picture books The Very Hungry Caterpillar karya Eric Carle.

Karakter yang memiliki keinginan akan melahirkan sebuah aksi.

Karakter 3 Dimensi

Menurut Alfredo Santos, karakter yang baik biasanya memiliki tiga dimensi: fisik, eksternal, dan internal.

Dimensi fisik adalah segala hal yang berkaitan dengan fisik si karakter: tubuhnya, wajahnya, rambutnya, gaya berjalannya, dan lain sebagainya.

Dimensi eksternal adalah segala hal yang berada di luar diri si karakter: orangtuanya, keluarganya, teman-temannya, lingkungannya, dan lain sebagainya.

Dimensi internal adalah segala hal yang berada di dalam diri si karakter: sifatnya, harapannya, kelebihannya, kekurangannya, dan lain sebagainya.

Struktur Plot Picture Books

Picture books memiliki struktur plot yang bisa dibilang serupa dengan struktur plot dalam prosa pada umumnya, yaitu terdiri dari awal, tengah, dan akhir.

Ketika ingin menulis cerita picture books, Alfredo meminta kami untuk memikirkan awal dan akhir cerita. Awal ceritanya seperti apa. Akhir ceritanya seperti apa. Jika keduanya sudah ada dan terkonsep dengan baik, bagian tengah ceritanya akan lebih mudah ditulis.

Alfredo juga membagi struktur plot menjadi lebih rinci lagi, yaitu set up, rising action, climax, falling action, dan resolution.

Set up adalah awal cerita yang menggambarkan karakter lengkap dengan tujuan dan motivasinya sehingga pembaca bisa langsung memahami apa keinginan karakter tersebut.

Rising action adalah serangkaian tindakan atau peristiwa yang menggerakkan cerita hingga mencapai climax.

Climax adalah sebuah titik balik atau titik tertinggi dari sebuah masalah yang sedang dihadapi oleh sang karakter.

Falling action adalah sebuah fase ketika karakter telah menyelesaikan masalahnya, klimaks telah terlewati, dan sedang meluncur menuju ke arah resolusi.

Resolution adalah akhir dari sebuah cerita. Apakah karakter berhasil meraih keinginannya atau gagal meraih keinginannya ada di sini.

Jika digambar, bentuk struktur plot di atas akan menyerupai sebuah gunung seperti yang terlihat di bawah ini:



Sampai di sini dulu catatan ini saya buat. Berikutnya saya akan membahas perangkat narasi, langkah-langkah menulis picture books, dan pertanyaan-pertanyaan seputar revisi cerita, yang saya dapatkan ketika mengikuti loka karya tersebut.

Semoga bermanfaat.

baca lanjutannya: Tips Menulis Picture Books (bagian 2)

Tuesday, March 28, 2017

Formula Menulis Picture Book

Ilustrasi karya Gina dalam buku Pencuri Tebu karya Iwok Abqary

Menulis cerita dengan formula? Ya. Memangnya setiap cerita memiliki formula? Tentu saja. Fungsi formula itu untuk apa? Untuk memudahkan seseorang dalam menulis cerita. Apakah formula itu bisa dipelajari? Yep. Sulitkah? Tidak juga. Bagaimana caranya? Nanti akan dijelaskan. Mengapa harus nanti kalau bisa sekarang? Baiklah, sekarang akan dijelaskan.

FORMULA 1: Formula Karakterisasi

Tokoh utama harus anak-anak, jangan orang dewasa. Dia boleh seorang manusia, atau hewan, atau tumbuhan, atau robot, atau monster, atau siapa pun. Pokoknya anak-anak. (Sebenarnya bisa saja sih tokoh utamanya orang dewasa, tapi tokoh utama anak-anak akan memiliki keterkaitan dengan pembaca yang juga seorang anak-anak).

Tokoh utama harus memiliki kekurangan. Entah itu fisik, materi, sifat, sikap, dan lain semacamnya. Pokoknya memiliki kekurangan. Seperti Nemo yang siripnya besar sebelah atau Arlo yang keempat kakinya sangat lemah. (Sebenarnya bisa saja sih tokoh utamanya tidak perlu memiliki kekurangan, tapi tokoh utama yang memiliki kekurangan akan membuat cerita menjadi sedikit rumit dan seru).

Tokoh utama harus memiliki nama. Kalau bisa namanya hanya memiliki 1 atau 2 suku kata. Tujuannya agar mudah diucapkan dan diingat oleh anak. (Sebenarnya bisa saja sih tokoh utamanya tidak perlu memiliki nama, tapi tokoh utama yang memiliki nama biasanya lebih abadi ketimbang tokoh utama yang anonim).

Demikianlah formula untuk pembuatan karakter atau tokoh utama untuk cerita kita. Simpan formula ini baik-baik. Jangan sampai hilang. Kamu boleh memberikan formula ini kepada siapa saja secara cuma-cuma. Sekarang kita akan membahas formula selanjutnya.


FORMULA 2: Pembagian Cerita

Kalau kita perhatikan secara saksama, sebenarnya setiap karya sastra pasti memiliki beberapa pembagian cerita, atau lebih sering disebut sebagai struktur cerita. Dalam picture books pun demikian. Biasanya, pembagian ceritanya seperti ini:

Bagian Pertama: Pengenalan Karakter
Pada bagian ini kita mengenalkan karakter atau tokoh utama dalam cerita kita. Mulai dari namanya beserta kekurangannya. Misalnya: tokoh cerita kita adalah seekor semut merah bernama Mora. Kekurangannya ia memiliki sifat yang pemarah.

Bagian Kedua: Penguatan Karakter
Jika pada bagian pertama bentuknya hanya perkenalan, pada bagian ini kita tunjukkan lagi gambaran kekurangan tokoh kita. Misalnya: Kita gambarkan pemarahnya Mora itu seperti apa.

Bagian Ketiga: Pengenalan Konflik
Pada bagian ini baru deh kita mengenalkan konflik yang akan dialami oleh tokoh utama kita. Misalnya: Gara-gara sifatnya yang pemarah, akhirnya Mora dijauhi teman-temannya.

Bagian Keempat: Mengatasi Konflik
Pada bagian ini tokoh utama kita mulai berusaha mengatasi konflik atau masalah yang dia alami. Misalnya: Mora mencoba main sendirian tanpa perlu bermain bersama teman-temannya.

Bagian Kelima: Tokoh Utama Mengalami Pencerahan
Pada bagian ini tokoh utama mulai mendapatkan pencerahan dan mendapatkan kesadaran atas apa yang sudah dia perbuat. Misalnya: Ternyata Mora baru tahu bahwa bermain bersama itu lebih menyenangkan ketimbang bermain sendiri.

Bagian Keenam: Penyelesaian Masalah
Pada bagian ini tokoh utama mencoba mencari cara untuk menyelesaikan masalah, dan itu artinya cerita sudah hampir berakhir. Karena ini adalah buku anak, ending atau akhir cerita harus berakhir bahagia dan menyenangkan.

Selesai.

Oke. Formula kedua sudah lengkap tersampaikan. Jika kamu merasa formula ini enggak cocok, kamu bisa mencari formula yang lain yang sekiranya cocok dengan kamu. Atau, kamu punya formula tersendiri? Jika punya, maukah kamu berbagi? Kira-kira sekian dulu formula ini saya tulis. Semoga bisa memberikan manfaat.

Di bawah ini saya sertakan cerita anak hasil karya saya sendiri dengan menggunakan formula di atas. Saya menambahkan unsur repetisi dan rima, hanya untuk pencapaian estetika. Kalau sekiranya cerita saya ini kurang menarik, kalian boleh memberikan kritik.

Selamat membaca.

Mora Si Pemarah

(Halaman 1-2)
Mora adalah semut yang pemarah.
Tubuhnya kecil dan berwarna merah.
Jika sedang marah Mora selalu menggigit.
Tentu saja rasanya sakit.

(Halaman 3-4)
Mora menggigit Lebi si lebah.
Mora menggigit Gajo si Gajah.
Mora menggigit Lili si Lalat.
Mora menggigit Ulin si Ulat.

(Halaman 5-6)
Akhirnya Mora dijauhi teman-temannya.
Tidak ada lagi yang ingin bermain dengannya.
“Kami tidak ingin bermain denganmu lagi,” ujar Lebi, Gajo, Ulin, dan Lili.
Mereka pergi meninggalkan Mora seorang diri.

(Halaman 7-8)
“Huh! Aku juga bisa main sendiri, kok!” ujar Mora marah.
Mora pun pulang dan wajahnya terlihat semakin merah.

(Halaman 9-10)
Sesampainya di rumah, Mora mencoba bermain sendiri.
“Enaknya main apa, ya?” tanya Mora dalam hati.

(Halaman 11-12)
Mora mencoba bermain bola.
Ah, tidak seru kalau tidak bermain bersama.

(Halaman 13-14)
Mora bermain masak-masakan,
Uh, tidak enak bermain sendirian.

(Halaman 15-16)
Lalu Mora melihat ke luar jendela.
Terlihat Lebi, Gajo, Ulin, dan Lili sedang bermain dan tertawa.
Mora menyesal dulu sering marah-marah.
Mulai sekarang Mora ingin berubah.

(Halaman 17-18)
Mora keluar rumah dan menghampiri teman-temannya.
“Teman-teman, aku minta maaf, ya,” ujar Mora.
Lebi, Gajo, Ulin, dan Lili tidak percaya.
“Apa betul kamu tidak akan gigit kami lagi?” tanya mereka.

(Halaman 19-20)
Mora mengangguk, “Iya, aku janji.”
Setelah itu, mereka bersalaman dan bermain bersama lagi.

TAMAT

Search This Blog

Arsip Blog

Powered by Blogger.

Saya adalah seorang editor buku anak di Noura Publishing. Saya telah membidani beberapa seri buku anak, seperti Seri Sepatu Dahlan (picture book), Spooky Stories (chapter book), Holidaylicious (chapter book), Duet Series (chapter book), Seri Anak Hebat (board book), dan Bacaan Anak Muslim (buku anak Islami).